16 Mei 2009
Nasiqkahannya Unna
09 Mei 2009
Kehidupan Baru Unna
Saat yang kutunggu akhirnya datang. akhirnya bidan datang juga membawa anakku yang sempat diinkubator karena kekurangan oksigen. Kutatap waja mungilnya, warna kulit yang merah dan rambut yang lebat "assalamu'alaikum nak, ini ummi"sapaku pertama kali sambil menggendongnya dengan tubuh yang bersandar. Setelah selesai, Zahrah mengambilnya karena aku harus berbaring kembali. Kulihat Zahro memberi susu formula pada bayi kecilku dengan sendok. Mulutnya yang tipis mungil begitu pintar menyedot tetesan demi tetesan " na' ummi minta maaf, belumpa' bisa kasi'ki susu"ada rasa sedih menyelinap tak bisa memberinya ASI pertamanya.
Tiga hari di RS akahirnya kami pulang juga. Puang nene menyambut kami dengan gembiranya. Meskipun ada yang menemani, perlahan kuurus keperluanku sendiri termasuk mencuci pakaian Unna (sapaan yumna). Pekan pertama semua serasa berbeda dibanding sewaktu hamil. Unna yang tergolong bayi besar selalu minta disusui, sungguh melelahkan dengan kondisi masih lemah harus begadang tiap malam sampai subuh. Punya anak bayi hidup jadi lebih berwarna, rasanya 24 jam tidak cukup bagiku untuk menunaikan tugasku mengurus anak, suami, rumah bahkan mengurus diripun terkadang lupa (he..he...biasa lo lupa mandi maklum ibu baru jadi belum terbiasa sesibuk ini).
Berjuang untuk Seorang Yumna
Seperti pemandangan yang sudah lumrah, malam ini RS Wahidin nampak ramai, semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Aku dan Ka' Mila menunggu Zahroh yang lagi registrasi. Sambil menahan sakit sesekali mataku menatap jauh ke arah jalan tapi zauji belum datang juga. "Sabar ya de' " ka mila terus menyemangatiku sambil melap keringatku yang bercucuran. Setelah menaiki 2 anak tangga akhirnya kami sampai di ruangan pemeriksaan, sudah kuduga di sana sudah menunggu 5 orang bidan dan beberapa koas laki-laki yang mau tak mau aku harus rela diperiksa. Tak lama kemudian zauji datang dan aku pun mulai tenang. "Tidak mauja melahirkan di sini, biarmi kita bayar mahal di khadijah asalkan hijabku terjaga" Mungkin kasihan melihatku pucat dengan lelehan air mata menahan sakit, akhirnya Zahroh dan Ka Mila membawaku ke RSB Khadijah yang ada di Jl. Veteran. Ku lihat zauji menyusul kami dengan motornya kemudian hilang di tengah ramainya lalu lintas Makassar. "Ka' sakit sekali" rengekanku bercampur air mata membuat zahro dan ka mila semakin gelisah. Perasaanku saat itu luar biasa sakit, kontraksi itu setia semakin tak berjarak lagi datangnya dan tiada memberiku kesempatan untuk sedikit saja mengatur nafasku. Terdengar samar-samar Zahroh menasehatkan agar aku ambil nafas dalam-dalam setiap rasa sakit itu datang. Mungkin kasihan melihatku kesakitan supir taxipun ikut ngebut.
Sekitar pukul 21.00 kami sampai juga. Alhamdulillah hanya aku pasien yang mau bersalin malam itu. Semua bidan-bidan yang kebetulan tugas mengenalku karena di RSB Khadijah tempatku memeriksakan kandunganku tiap bulannya. Aku langsung di baringkan di ruangan bersalin. Zauji, Zahro dan Ka Mila dengan setia menemaniku. Sangat sulit menggambarkan rasa sakit yang tiap menit kurasakan. Kedua tangan suamilah tempatku bertumpu bila rasa sakit itu datang. Aku merasa setengah sadar, rasa ngantuk dan capek semakin memperburuk staminaku. Zahroh setia melap keringat yang menganak sungai dan Ka Mila tiada henti memberiku minum bila kontraksinya berhenti. Akhirnya dokter kandunganku datang dan langsung memeriksaku. Ketika itu zauji, zahroh, dan Ka' Mila diminta sementara keluar ruangan dahulu karena kondisi badan dan bayiku akan dicek oleh dokter. Sepertinya diluar ruangan zauji nampak tegang apakah dokterpun akan memfonis cesar untuk menyelamatkan bayiku.
"Sudah pembukaaan 2 posisi bayinya bagus dan beratnya seitar 3,9 kilo" kata dokter sambil mencatat jumlah denyut jantung bayiku. "Dok, bisaji lahir normal?" tanyaku dengan suara lemah "Iya bu, selalu bisa asal ibujuga berusaha dan besarkan hati, semua normal kontraksinya juga bagus, sekitar subuh semoga sudah lahir" ada senyum di balik wajahku yang lelah, harapan itu kembali datang.
"Tolong berikan ibunya minum yang banyak ya..." pesan terahir dokter sebelum pergi. Zauji, zahroh dan ka' mila terus menyemangatiku.
Sambil terus mencengkram tangan suami menahan sakit, mataku terus saja menatap jam dinding yang menunjuk angka satu. "Ya Allah Ya Robb, berikanlah kemudahanMu." do'aku sambil terus melafaskan Allah dalam tarikan nafasku yang berat. Air mataku berlinang, kini kurasakan beratnya pengorbanan Ua' (ibu) dan A'baku(ayah). "Ka' tidak bisama , sakit sekali tidak bisami kutahan" rengekku pelan. "Sabarki, tahanki tinggal sedikit mami. Ingatki banyak yang sedang menunggu Yumna, bisajaki itu insya Allah." Ahirnya aku terdiam melihat harapan besar suami "Yah aku pasti bisa !". Busss.....perasaanku sedikit kaget, tiba-tiba terasa ada yang meletus seperti balon dalam perutku. Air mengalir dari bawah deras berbau seperti bau bayclin (pemutih pakaian). Awalnya aku kira itu adalah air kencing, tapi kalau aku buang air kecil, kok deras banget ya?. Ketika itu aku yakin insyaAllah ini bukan kencing, tapi air ketuban. "Bu' bidan....pecahki ketubanku" semua yang ada di situ kaget mendengar teriakan kecilku di tengah canda mereka. Segera 2 orang bidan yang lagi merebahkan diri di ruangannya langsung berhambur ke dekatku. Kulihat suami, Zahroh dan Ka Mila tidak kalah paniknya. Samar-samar bidan yang satu memeriksaku "pembukaan delapanmi" katanya, sambil kemudian memeriksa denyut jantung bayiku. "Jam berapa kira-kira lahir bidan" tanya suamiku dengan nada gembira "Tunggu-tunggumi sekitar jam 4 atau 5" kata bidan tersebut sambil membersihkan tangannya. Bidan yang satu kudengar menelpon dokter yang akan menolong persalinanku.
Ada bahagia, meski jujur aku tak tahu seperti apa rasanya sakitnya melahirkan, yang kutahu kalau dokter sudah dihubungi pertanda waktunya sudah dekat. Menanti saat yang diharapkan sungguh menyiksaku, apalagi sakit kontraksi yang kurasa semakin menjadi, sungguh luar biasa sakitnya hingga suara nafasku terdengar bergetar. Peluh terus membasahi seluruh badan sambil terus mencengkram kuat ke dua tangan suami saat sakit kontraksi itu datang. Subhanallah tiba-tiba kurasakan ngantuk yang luar biasa, tanpa menunggu lama mataku terpejam tapi tak lama kemudian tersentak terbangun karena rasa sakit kontraksi yang semakin memuncak. Sampai pukul 02.00 dini hari, rasa sakit itu tak tertahankan sampai aku menjerit, bidan yang melihatku saat itu langsung memeriksaku dan menelpon dokter "Hampirmi pembukaan lengkap, ambilmaki pakaian bayita'". Dengan sigap zahro dan ka mila beranjak meski dengan mata sayu karena ngantuk.
Tidak lama kemudian dokterpun datang, seketika suasana manjadi sibuk. Kulihat peralatan seperti gunting, jarum dan yang lain mulai disiapkan. Dokter memeriksaku dan sekitar pukul 03.00 pembukaan lengkap. Dokter menginstruksikan bila kontraksinya datang supaya aku mengedan. Sudah sekitar 3 kali kontraksi datang tapi kata dokter kepala bayi belum kelihatan. Tenagaku mulai melemah tapi tetap aku harus kuat !. Suami terus memberiku air dan madu di sela kontraksi. Saat kontraksi yang ke 5, tiba-tiba dokter mendekat memeriksa denyut jantung bayiku. Lewat dopler (pendeteksi denyut jantung bayi) kami semua bisa mendengar jantung bayiku makin melambat. Wajah dokter dan para bidan terlihat cemas "Sediakan dua tabung oksigen dan berikan infus untuk menambah lama kontraksi, cepat ....denyut bayinya mulai melemah".
Aku dan keluarga hanya bisa terdiam melihat kesibukan mereka. Ada yang tidak beres! Keyakinanku bertambah saat semua bidan yang tadinya santai-santai di ruangan masing-masing tiba-tiba berhamburan mendekatiku sesuai instruksi dokter. Ada yang memasang infus, memasang selang tabung oksigen ke hidungku. Benar-benar aku kelelahan terasa kepala bayiku susah keluar dari pintu. Seorang bidan menyuruh keluargaku keluar (kecuali zauji), kemudian tiraipun di tutup. Sekarang aku harus berjuang sendiri ditemani 7 bidan dan dokter dan ucapan semangat dari suami. Terasa ada yang di robek di jalan lahirku, dokter ditemani 3 orang bidan sibuk berusaha melebarkan jalan lahir dengan gunting bedah, sekuat tenaga yang tersisa aku terus mengedan tapi kepala bayiku belum keluar juga. Tubuhku lunglai. " Dorong pelan-pelan perutnya, bayinya harus segera keluar jangan sampai jantungnya berhenti berdenyut !" kata dokter. Seketika itu seperti sudah terformasi 2 bidan lain sudah ada di sisi kanan dan kiriku, mereka terus mendorong perutku dan aku terus mengedan. "Ya Allah...rasa sakit itu sungguh luar biasa, seperti ada akar yang tertancap kuat dan dicabut dengan paksa. Jeritanku ahirnya keluar juga yang sedari tadi tertahan.
Suasana sangat tegang, ahirnya zahroh dan ka' mila dibolehkan masuk. Wajah mereka tak kalah paniknya. " terus....berkuat irma....terus sayang dorong bayinya" suara dokter membimbingku. terasa ada benda keras yang terus mendesak untuk keluar. Dokter terus menarik kepala bayiku dan bidan terus mendorong dari atas. Alhamdulillah pukul 03.49 bayiku lahir tapi semua belum berahir. Selang oksigen di cabut, badanku melemah. Kulihat semua orang berlari ke tempat bayiku dibersihkan. Dokter dengan sigap memasukan selang oksigen ke hidung anakku yang membiru. hatiku sakit melihatnya lahir tanpa tangisan "zahroh...kenapai ponakanmu...?" kulihat wajahnyapun terlihat sedih "tidak papaji de'" ka mila mencoba menenangku. Meski tahu apa yang terjadi, aku terus meyakinkan diri kalo semua baik-baik saja. Sekitar pukul 04.00 akhirnya buah hatiku lahir sempurna ke dunia dengan berat 3,9 kilo dan panjang 4,9 senti. ALHAMDULILLAH.
08 Mei 2009
Karunia yang Tertunda
07 Mei 2009
InsyaAllah Saatnya Tiba ...
Tak terasa hari sudah mendekati senja, rupanya sudah 5 jam aku berbaring menerawang dengan semua kecemasanku "ya Robb, berikanlah hamba jalan keluar yang terbaik" air mataku mengalir mengiringi do'aku. yah aku harus optimis bayiku bisa lahir normal seperti kata suamiku. Akhirnya tepat jam 17.30 beliau datang, rela meninggalkan pekerjaannya untuk mengantarku periksa. Kamis malam ba'da isya dengan perut yang lumayan besar kami meluncur dengan motor ke Rumah Bersalin (RB) seorang bidan senior di daerah Jalan Tol yang kebetulan berdekatan dengan tempat tinggal kami. Karena lokasinya yang berada di lintasan jalan tol, perjalanan kami tiada hambatan. Sampai di sana aku langsung ditangani, mulai dari memeriksa tekanan darah sampai menimbang berat badanku.
"Normal bu, anak pertama ya?" aku menganggukan kepala sambil membalas senyuman bidan itu, lalu kutanyakan segera bidan senior pemilik RB itu, kalau bisa beliau yang memeriksaku. Tapi sayangnya beliau lagi menangani persalinan. Mataku menatap ke arah suami yang dengan setia menyemangatiku seakan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Kuikuti bidan itu menuju sebuah ruangan. Sambil berjalan kulihat seorang ibu dengan kesakitan yang sangat, tengah berjuang melahirkan bayinya. Dug-dug....jantungku terasa berdenyut cepat ada rasa takut bercampur cemas. "Mari bu saya periksa" kata bidan tersebut. " Ya Allah sesakit itukah sampai wanita itu berteriak ?" .Akhirnya langkahku berhenti disebuah tempat tidur, berbaring di atasnya seperti petunjuk bidan. Mataku terus menatap tangan bidan yang sudah disterilkan bersiap memeriksa apakah sudah ada pambukaan atau belum. Ups ....aku agak kaget karena rasa sakit. Dari jauh samar-samar kudengar suara ibu yang tadi berteriak, pasti sakit sekalii " Ibu, sudah pembukaan empatmi. Janganmaki pulang suruhmi suamita ambil pakaian karena insya Allah kalo kontraksinya teratur bisami lahir besok subuh" jelas bidan itu dengan logat Makassarnya. "Normalji semua, kepala bayi normal dan sesuai panggulta', jadi janganmaki hawtir. nanti jalan-jalanmaki' di luar supaya dedenya cepat lahir" terangnya seakan tahu kegundahanku. Mendengar kalau aku sudah pembukaan 4, kulihat ada binar bahagia dimata suamiku. Optimis yang selama ini jatuh bangun kukumpulkan akhirnya kokoh menyemangatiku, kami akan berjuang untuk YUMNA yang semoga menjadi pembela agama Allah di atas muka bumi. Jam nenunjukan pukul 21.30, lumayan lama aku mondar mandir di depan RB tak peduli dengan tatapan aneh pengunjung yang lain. Mungkin agak aneh dengan busanaku yang serba hitam apalagi wajahku tertutupi cadar. Semua kuabaikan karena ada haru yang sulit kubahasakan. Sms semangat dari adik, keluarga dan sahabat terus menyemangati karena malam itu mereka tidak bisa menemani "Sayang, sabarki' nah. Insya Allah ketemujaki itu...." kubisikan kata demi kata berharap si kecilku merasakan bahagiaku, ternyata dia juga merespon dengan gerakannya meski tidak selincah dulu. Akhirnya malam itu aku dan suami menginap dengan satu asa, semoga bayi kami lahir malam ini.
14 Maret 2009
Kunanti Engkau Dalam Doa
Entah kapan ia terhadir di dalam do’a
Terangkai dalam bait permohonan pada Robb
Yang terbersik hanyalah kerinduan yang membuncah
Semoga engkau cepat hadir di tengah-tengah kami.
Wahai anakku sayang, adakah panggilan itu bisa kulantunkan?
Ataukah ia adalah karunia yang tiada ada dalam takdir kami
Ah….meleleh air mata pasrah akan takdirNya
Menitipkan do’a pada yang memiliki segenap kehendak
Karena teryakini, semua takdirNya adalah indah
Adakah do’a indah itu senantiasa hadir dalam sujud kita?ditengah keheningan rumah mungil yang baru-baru kita bangun bahkan ada yang bertahun-tahun lamanya, tapi suara si kecil belum juga terdengar? Yah sama…kamipun merasakannya, tentu setiap pasangan merindukannya dan memanjatkan do’a yang sama meskipun bait-baitnya berbeda. Meski terbilang masih pengantin baru-sekitar satu bulan- tapi yang namanya pertanyaan dari kanan kiri sudah mulai terdengar “ eh…sudah isi belum?” ataukah kalimat dalam versi yang lain yang pastinya menanyakan kehadiran si kecil. Awal mula sih kami nyantai aja, tapi lama kelamaan bosan juga dan kadang kubisik ke suami “ ka…kapan nih “ beliau hanya tersenyum melihat tingkahku yang awalnya menasehati suami agar dibawa nyantai tapi eh…malah sayanya yang mulai uring-uringan. “ yah semua terserah ALLAH dik, orang yang belum dikaruniai anak itu bukannlah aib, karena anak adalah rezki dariNya yang sudah diatur ke pada siapa akan diberikan…so tidak usah malu..”itulah ceramah ampuh dari suami yang cukup mujarab meredam kegalauan yang mulai menyusup halus dalam hatiku. yah…itu bukanlah aib. Alahamdulillah pada malam ke 9 Ramadhan Allah yang Maha Tahu mengabulkan do’a kami. Terjawab sudah setiap rengekan indah di hadapanNya dari kami yang lemah, sekarang sudah ada mahluk mungil itu di dalam tubuhku, dan semoga Allah mempercaykannya pada kami hinggga ia benar-benar terlahir ke dunia.
Cerita di atas hanya bahagian kecil dari seluruh scenario Allah di muka bumi ini, sepasang suami istri dengan seluruh usahanya, bahkan tak jarang dengan bersimbah air mata dalam setiap sujud penghambaan adalah lebih baik dari pada yang hanya pasrah dengan semua rasa putus asa. Bukankah ia adalah rezki yang sudah di atur?bukankah belum memilikinya bukanlah aib? Dan bukankah Allah memberikan beban ke pada manusia sesuai kemampuannya? Jadi…bersikaplah proporsional pada semua bisikan-bisikan tajam yang kadang melukai meski tentunya tidak mudah melakukannya. Semua tergantung seberapa yakin hati kita dengan takdirnya yang indah, mungkin dengan merenungi beberapa pertanyaan yang saya lontarkan tadi bias sedikit menenangkan hati.
Jika bulan pertama. Ke dua bahkan hingga bertahun tahun lamanya ikhtiar kita belum terjawab bukanlah sikap yang bijak bila seumpama tanda-tanda kehamilan yang belum juga muncul membuat kita stress apalagi sampai merusak keharmonisan RT. Umur yang lumayan tua, penghasilan yang memadai bahkan materi yang berlimpah bukannlah jaminan apakah kita siap atau sudah dikatakan dewasa untuk bias menaggung amanah besar itu..mungki banyak manusia yang menilai kita mampu tapi di hadapan Allah mungkin belum. Kesibukan, sikap cuek atau bahkan akhlak yang kasar yang tanpa kita sadari ada pada diri meskipun kita anggap sepele bias menjadi penyebab tertahannya karunia itu.
Tapi jangan pernah berkecil hati, jika Allah menakdirkan anda belum mampu membawa beban itu pastilah dengan semua pertimbangan atas ilmuNya yang berhikmah.Allah lebih cermat dalam menilai kondisi anda melebihi diri anda sendiri. Dan yang sudah dikaruniai amanah itu, semoga tetap disadari ia adalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban…so TIDAK MUDAHKAN JADI ORTU?semoga kami bisa memikulnya dengan baik.
Oh iya mungkin adalah sikap yang bijak bila dalam menanti si kecil kita coba atur ikhtiar aja dari pada pusing-pusing dengarkan celoteh negative kanan kiri. Ada baiknya pasangan suami istri tetap menjaga kesehatan terutama pada masa-masa reproduksi. Asupan gizi yang baik sangat penting jika calon ibu mau si kecil cepat nongol.jangna karena udah lama menanti kita jadi ogah-ogahan juga cara makannya..pengalaman kami dulu sewaktu masih dalam masa-masa penantian, tidak jarang kami ikuti semua saran dari kerabat bahkan teman sejawat agar si kecil cepat hadir. Tapi diantara semua nasehat kami lebih memilih untuk memperbanyak minum madu dan sesekali konsumsi HABBATUSSAUDA. Selain itu dan beberapa bidan yang kami ajak konsul via internet kami usahakan ikuti sesuai kemampuan. Mungkin petunjuk berikut bisa jadi alternatif :
- Makanlah dengan menu yang seimbang
- Jangan lupa konsumsi vitamin B, D, E dan vitamin yang lainnya.
- Perbanyaklah konsumsi makanan yang mengandung asam folat seperti pada sayuran hijau, kacang kacangan, pisang, jeruk, wortel dan hati.
- Konsumsilah zat besi dan susu sesuai dengan anjuran dokter
- Dan terakhir olahraga.
Untuk memilih menu di atas tidak harus mahal, dapat dipilih yang mudah, murah terjangkau dan yang pastinya tidak membebani SUAMI.
Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan adalah hal-hal yang harus kita hindari sebagai peringatan sebelum kehamilan yang sempat saya dapat dari dosen biologi waktu kuliah dulu..( ada baiknya kalo kita hindari aja). Selama masa menanti baiknya hindari makanan yang mengandung mint karena bisa mengurangi kesuburan, jangan mengkonsumsi alcohol, obat-obatan juga rokok karena tidak diragukan lagi berakibat buruk pada kesuburan, kurangi konsumsi makanan yang mengandung kafein seperti kopi, teh dan soft drink dan yang terakhir….ini sih saran dari saya pribadi….hindari meminta bantuan pada ORANG PINTAR alias DUKUN apapun mereknya karena apa yang mereka katakana adalah BOHONG kalaupun benar, dalam agama kita (Islam) mendatangi dukun adalah haram hukumnya karena merupakan perbuatan yang menyekutukan Allah dalam pengharapan dan yang pastinya ganjarannya sangatlah Pedih.
Sebagai sapaan yang terakhir dalam bab ini, semoga kita semua yang tengah menanti kehadiran sibuah hati tetpa diberikan kesabaran dan tidak dijerumuskan pada apa yang dilarangNYA, menantinya dengan kesabaranpun adalah sebuah ibadah yang akan sangat manis dan indah bila kita lalui dengan saling memberi dukungan antara suami dan istri. Berikut saya cantumkan semacam KALKULATOR KEHAMILAN. Semoga ada manfaatnya. Barokallahu fiik.
Bismillah
Terangkai kata demi kata ……… .
Dengan awal yang disenangi Robb dan Nabiku
Kata yang mulia yang semoga dengannya,
Terberkahi semua yang tertulis.Amin
Sebaik-baik karunia untuk seorang wanita (muslimah-red) yang diberikan Allah setelah keimanan adalah memiliki suami yang sholeh.ia tidak hanya hadir dalam oase hidup yang harus kulalui dengan semua kelemahan yang dikaruniakan Allah pada diri seorang “wanita”tapi lebih dari itu ia adalah imam, pemimpin bahkan nahkoda bagi kapal yang sedang kami tumpangi hingga Allah menakdirkan ia berlabuh di JANNAH-Nya.AMIN.
Dengan ijab qabul yang dilantunkan sebagai janji mulia di hadapan Yang memiliki segenap janji, telah berubah diri menjadi seorang istri yang penuh dengan tanggung jawab
Dengan menjadi istri terbuka ladang pahala yang tak terukur oleh timbangan manusia. Ia hanya bisa dirasa dalam jauhnya kesyukuran atas nikmatNya, yang mungkin tidak semua saudariku mendapatkannya.
Lengkap sudah cerita dalam lembar hidupku sebagai WANITA. Menjadi anak, saudara, kakak, istri dan IBU. Yah … , kata IBU semoga Allah mengaruniakan gelar indah itu dalam hidupku
Mengaruniakan Penyejuk hati dalam rumah mungil kami … AMIN
WASSALAM